Artikel

Ajaran Thariqat Tidak Menyesatkan

Ada banyak masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran thariqat itu adalah ajaran sesat, padahal mereka yang mengatakan seperti itu belum mengenal ajaran thariqat, mengenal tetapi tidak mendalami ilmunya, mendalami ilmunya tetapi tidak mengamalkan ajaran thariqat dan seterusnya.

Namun orang-orang yang berpendapat seperti itu tidaklah banyak, hanya sebagian kecil dari masyarakat Islam. Lantas timbul pertanyaan, seperti apakah ajaran thariqat itu?

Thariqat itu merupakan buah dari syari’at, oleh karena itu ajaran thariqat tidak bisa lepas dari syari’at. Mempunyai tujuan utama yaitu memperbaiki akhlak masyarakat melalui ilmu dzikrullah. Semua thariqat yang mu’thabaroh ada gurunya masing-masing dan mempunyai sumber yang sama yaitu Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, melalui jalur beberapa sahabat diantaranya Abu Bakar Ash Shiddiq RA, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, Sayyidina Umar bin Khattab RA, Sayyidina Anas RA dan Sayyidina Ustman bin Affan RA pun juga ada termasuk juga Salman Al-Farizi RA.

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan ilmu dzikir kepada para sahabat tadi berbeda-beda. Kenapa? karena masing-masing sahabat harus mengamalkan menurut format sakilah. Sakilah itu adalah menurut kemampuan individual dan spiritual yang masing-masing mereka itu berbeda-beda. Ada yang cocok dzikirnya seperti ini, ada yang cocok dzikirnya seperti itu, dan sebagainya.

Itulah sebabnya dan wajar saja kalau aliran thariqat itu banyak, seperti misalnya Naqsyabandiyah, Qodiriyyah, Sadziliyyah dan sebagainya. Ada yang alur sanadnya melalui Abu Bakar Ash-Shiddiq, melalui Sayyidina Umar bin Khattab, melalui Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan sebagainya. Ajaran-ajaran thariqat tesebut di bimbing oleh seorang guru pembimbing yang dinamakan Mursyid.

Dzikir dalam ajaran thariqat bukan hanya sekedar bacaan untuk mencari pahala atau bukan untuk menghilangkan stress, tetapi yang paling utama adalah untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga akhirnya buah dari dzikir tersebut akan mewarnai kehidupan atau pribadi yang menjalankan thariqat tersebut. Analoginya begini (untuk mempermudah pemahaman saja bukan membandingkan), saat kita makan, nasi yang kita makan itu hanyalah sekedar sebagai sarana untuk kenyang, sementara yang memberi rasa kenyang itu hanyalah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam artian yang sempit, bagi yang mengamalkan dzikir terus menerus, maka hatinya akan menjadi tenteram, yakni tenang dan tenteram dalam menikmati hubungannya kepada Allah Sang Pencipta, tenang dan tenteram dalam menikmati pemberian-Nya, tenang dan tenteram dalam menghadapi cobaan-Nya.

Seperti dikatakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al Qur’an yang artinya : “… (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingalah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (Q.S. Al-Ra’ad : 28).

Dalam artian yang luas, keistimewaan kalimah Dzikir itu dalam setiap thariqat sudah sebarang tentu berbeda-beda pula. Kalimah dzikir ini bagaikan lautan tak bertepi, walau keistimewaannya dibagi-bagi kepada thariqat Naqsyabandiyah, Thariqat Qodiriyyah, thariqat sadzilliyah dan lain-lain, tidak akan pernah habis. Justru kita akan melihat betapa agungnya ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala yng ditunjukkan kepada kita.

Thariqat-thariqat yang di pegang oleh para Auliya seperti Syekh Abdul Qodir Jailani, Sayyid Ahmad Al-Badawi dan lainnya, tidak mungkin akan menyesatkan dengan ajarannya. Sebab, dipundak mereka ini terdapat amanah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Ulama Waritshatul Anbiya. Mereka itu yang takutnya hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak mungkin menyesatkan.

Bagaimana dengan ajaran thariqat saat ini? Tentunya thariqat thariqat yang ajarannya bersumber dari ajaran para Auliya tersebut yang kemudian diteruskan oleh para Ulama sekarang ini dan sangat jelas ke mu’thabarohannya (sanadnya/silsilah dari guru ke guru terus hingga sampai kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) sudah tentu tidak akan lepas dari Al Qur’an dan Hadist.

Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis Tanjung Morawa yang di pimpin oleh Syekh H. Ghazali An Naqsabandi jelas sanadnya atau silsilahnya. Dan sudah lebih dari 10 tahun menjadi anggota Jam’iyyah Ahli Thariqoh Mu’tabaroh Indonesia (JATMI) yaitu organisasi yang anggotanya terdiri dari berbagai perguruan thariqat mu’thabaroh di Indonesia. Sumber hukum dalam ajaran Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis adalah Al Qur’an dan Hadist.

Bulan Oktober 2015 yang lalu, Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis di undah oleh MUI Sumatera Utara untuk mengikuti acara seminar Perkembangan Aliran Sesat di Sumatera Utara. Dalam seminar tersebut telah di bahas ciri dan karakter dari ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan yang dapat melencengkan aqidah umat Islam.

Memang banyak dijumpai ajaran-ajaran thariqat yang aneh-aneh dan bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadist, itu tidak lain dan sudah dapat dipastikan bahwa aliran sanadnya terputus, silsilahnya tidak jelas, tidak di kenal semua sehingga thariqat tersebut tidak mu’thabaroh. Sang guru pembimbing bukanlah Mursyid karena gurunya tidak mengangkat dia menjadi Mursyid tapi hanya sekedar murid yang diberi kewenangan untuk menyebarluaskan ajaran sang gurunya, tapi dia mengaku sebagai Mursyid, sehingga terjadilah hal-hal yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadist.

Oleh karena itu, bagi masyarakat yang ingin mengamalkan ajaran thariqat khususnya thariqat naqsyabandiyah, hendaknya carilah Guru Mursyid (Guru Pembimbing) yang jelas silsilahnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakn dalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 17 yang artinya : “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberinya petunjuk”.

Waliyyam Mursyida, seorang wali yang Mursyid. Syarat seorang Mursyid harus wali. Banyak wali tapi belum tentu Mursyid, sebaliknya banyak Mursyid sudah tentu wali. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa Wali Allah yang sesungguhnya hanyalah mereka yang beriman dan memilik ketaqwaan yang sejati, sebagaimana disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Yunus yang artinya : “Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (Q.S. Yunus : 62- 63).