Fatwa Guru Mursyid

Haul Guru Ke-9 Tahun 2011

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang atas karunia dan hidayah-Nya, kita diberikan kesehatan, kecerdasan berpikir dan kehidupan yang tenang. Kemudian kita sampaikan shalawat dan salam ke haribaan junjungan kita yang khalis mukhlisin Nabi Besar Nabi Muhammad SAW, semoga kita mendapat syafaatnya di yaumil akhir nanti. Salam ta’jim berkepanjangan kita sampaikan pula kepada Ahli Silsilah Thariqatullah Thariqat Naqsyabandiyah serta guru-guru yang Mursyid, dimana berkat ajaran beliau yang disampaikan kepada kita, akhirnya kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Perkembangan kehidupan dunia sekarang masih dalam fase modern. Dalam kehidupan modern sudah sebarang tentu sebagai umat Islam mempunyai tanggung jawab sosial lebih berat saat ini dibanding masa lampau, karena kondisi dan situasinya lebih kompleks, sehingga refleksinya berbeda.

Bila kita cermati, masyarakat modern ternyata menyimpan problema hidup yang sangat sulit untuk dipecahkan. Rasionalisme, sekularisme, materialisme dan lain sebagainya ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketenteraman hidup. Akan tetapi sebaliknya, semakin menimbulkan kegelisahan hidup. Masyarakat terbelenggu dengan keadaan sekitar, terpukau dengan modernisasi yang seolah-olah dengan serta merta akan membawa kesejahteraan.

Harus kita sadari bersama bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap memukau itu ada gejala yang dinamakan the agony of modernization yaitu azab sengsara karena modernisasi.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai tulang punggung modernisasi dan industrialisasi, tanpa disadari membukakan peluang yang lebih besar bagi penyalahgunaan sehingga mengakibatkan dampak negatif berupa kerusakan lingkungan hidup, maksudnya tidak semata-mata dalam arti fisik yaitu polusi dan kerusakan alam lainnya, tetapi termasuk di dalamnya lingkungan dalam arti tata nilai kehidupan.

Lantas, dengan demikian apakah kita harus melakukan penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi? Sudah tentu tidak. Walau modernisasi dipandang gagal memberikan kehidupan yang lebih bermakna kepada manusia, itu tidak lain adalah di karenakan kemajuan teknologi dan ekonomi masyarakat tidak dibarengi dengan kemajuan Iman dan Akhlak.

Oleh karena itu saya menghimbau kepada seluruh umat Islam, khususnya bagi jamaah Thariqat Naqsyabandiyah Yayasan Jabal Qubis, raihlah ilmu pengetahuan itu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya dengan bersungguh-sungguh. Ingatlah dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Yunus ayat 58 : “Katakanlah: dengan kurnia Allah SWT dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka (orang-orang yang berilmu) bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (kemewahan duniawi) yang dikumpulkan (oleh manusia)”. Dengan berkembangnya modernisasi dan teknologi, tuntunan yang muncul saat ini adalah pengembangan intelektual muslim sehingga memiliki kemampuan dialogis dan fungsional terhadap perkembangan IPTEK.

Mari sucikan diri secara moral, spiritual, ekonomi dan politik. Sehingga nantinya kegiatan para jamaah adalah kegiatan spiritualitas yang berilmu pengetahuan.

Kita bukan saja selalu membicarakan masalah tauhid, akhlak dan kesucian, tetapi juga mendiskusikan gelombang suara, gerhana, kimia dan fenomena-fenomena alam lainnya. Kita bukan saja mengulas teori-teori peningkatan ekonomi, tetapi juga kezuhudan Ali bin Abi Thalib. Al-Farabi adalah seorang raksasa dalam sains Islam, tetapi hal itu tidak pernah menghambatnya menjadi sufi.

Pada hakikatnya orang Islam boleh saja dan sah-sah saja memiliki harta kekayaan yang banyak, namun tidak boleh mencintai harta secara tidak wajar sehingga lupa beribadah pada Allah, lupa kewajiban membayar zakat, lupa untuk membantu fakir miskin dan sebagainya. Harta yang kita miliki haruslah tetap dijadikan alat untuk beribadah, digunakan dijalan yang di ridhoi Allah, bukan untuk tujuan bersenang-senang, berfoya-foya dan hidup bermewah-mewah.

Sebaliknya, sebagai seorang muslim, kebersihan itu adalah mutlak, janganlah kita misalnya selalu berpakaian kumal seperti gelandangan, menjadi sangat papa hanya untuk menjalani kehidupan zuhud. Pengertian zuhud tidaklah seperti itu.

Rasulullah SAW menganjurkan, berbuatlah dalam urusan keduniaan seakan-akan kamu hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhirat seakan-akan besok pagi kamu mati. Sabda yang lain dari Rasulullah SAW : “Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa”. (H.R. Thabrani dari Jabir)

Pastikan setiap detik kehidupan kita menghasilkan ketenangan, kebahagiaan, kedamaian dan kecukupan. Siapa yang menginginkan kejayaan, maka itu dapat diperoleh dengan iman dan hidayah Allah. Kedua unsur ini menjadi kunci kenikmatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Problem masyarakat modern yang dihiasi kemungkaran berupa tipu daya dan dosa, bukan penghalang bagi kita meraih keberhasilan hidup di dunia dan akhirat sekaligus.

Galilah potensi diri dengan panduan yang di tunjuk oleh Al Qur’an dan Hadist. Diri kita di ciptakan oleh Allah agar kita mengembangkan semua potensi diri secara tabii’ sehingga mampu membawa manfaat kepada diri, orang lain dan dien Islam yang hanif ini.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tanjung Morawa, 04 Desember 2011
Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis,

Syekh H. Ghazali An Naqsyabandi
Guru Mursyid.