Fatwa Guru Mursyid

Haul Guru ke-8 tahun 2010

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Marilah kita mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang atas karunia dan hidayah-Nya, kita diberikan kesehatan, kecerdasan berpikir dan kehidupan yang tenang. Kemudian kita sampaikan shalawat dan salam ke haribaan junjungan kita yang khalis mukhlisin Nabi Besar Nabi Muhammad SAW, semoga kita mendapat syafaatnya di yaumil akhir nanti. Salam ta’jim berkepanjangan kita sampaikan pula kepada Ahli Silsilah Thariqatullah Thariqat Naqsyabandiyah serta guru-guru yang Mursyid, dimana berkat ajaran beliau yang disampaikan kepada kita, akhirnya kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Alhamdulillah, sekarang ini saya melihat bahwa sebagian besar Jamaah Thariqat Naqsyabandiyah Yayasan Jabal Qubis adalah generasi muda. Ini menandakan adanya perubahan paradigma dimana dulu ajaran thariqat itu kesannya lebih cocok untuk orang-orang yang sudah tua dan sepuh. Ataupun untuk orang-orang yang sudah cukup mumpuni pengetahuannya di bidang syari’at.

Dalam peringatan Haul Guru ke-8 tahun 2010 ini, fatwa yang saya sampaikan lebih ditujukan kepada jamaah generasi muda. Sebab ditangan para generasi mudalah baik buruknya kehidupan suatu bangsa ataupun suatu negara kelak.

Adanya kesadaran para orang tua dan kesadaran bagi para remaja khususnya dan generasi muda umumnya untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu dzikrullah merupakan salah satu tolak ukur adanya keberhasilan dalam upaya memasyarakatkan ilmu dzikir khususnya dzikir hati yang dilakukan oleh para khalifah sebagai perpanjangan tangan dari Guru Mursyid.

Bagi generasi muda, kehidupan masa depan kamu sangat berkaitan erat dengan cita-cita. Sebab cita-cita yang tinggi akan wujud di hati orang yang mencari akhirat. Kehidupan masa depan yang baik adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh setiap generasi muda. Sesuatu yang ingin dicapai itu adalah merupakan cita-cita. Oleh karena itu, cita-cita untuk memperoleh kehidupan yang baik di masa sekarang dan di masa mendatang diperlukan suatu perencanaan dan tahapan tujuan yang jelas. Ini tentunya berkaitan dengan niat, amal dan perbuatan. Setiap tahapan tujuan dalam proses perjalanannya diperlukan yang namanya evaluasi dalam bentuk introspeksi diri atau muhasabah.

Oleh karena itu, kepada jamaah generasi muda khususnya dan jamaah umumnya yang sudah mengamalkan ilmu dzikrullah, hendaknya dari sekarang sudah harus meluruskan niat dalam menggapai cita-cita. Berpegang kepada kata-kata adalah sangat penting, ridho Allah perlu dicari bukan dinanti. Apabila langkah pertama dalam hidup jelas untuk meraih ridho Allah, Insya Allah langkah seterusnya akan dipelihara oleh Allah SWT.

Mengamalkan ilmu dzikrullah dengan konsisten dan bersungguh-sungguh merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan ridho Allah SWT dalam mengarungi kehidupan duniawi. Dengan latihan bersungguh-sungguh tadi maka untuk menghadapai gemerlapnya materi duniawi, dapat terbangun sifat qana’ah, tawakal, zuhud, wara’, sabar, syukur, dan sebagainya. Sifat-sifat ini merupakan bekal dalam menghadapi kehidupan nyata, bukan faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pasif, seperti tidak mau berusaha untuk meningkatkan prestasi belajar, tidak mau berusaha meningkatkan prestasi dalam bekerja, tidak mau berusaha mencari nafkah, ekslusif dan menarik diri dari keramaian dunia. Bukan seperti itu.

Apapun kegiatan yang kamu lakukan, yang penting tidak lari dari tujuan kehidupan untuk menggapai keridhoan Allah SWT. Didik diri kita sehingga merasakan bahwa ridho Allah adalah sesuatu yang besar untuk diraih. Sebaliknya, kehidupan yang tidak mempunyai tujuan ke akhirat jelas tidak berguna. Bersihkan dan kosongkan jiwa kita dari sifat-sifat tercela, kemudian hiasilah diri dengan sifat-sifat terpuji, niscaya kita akhirnya akan mendapatkan sinar Illahi.

Berbahagialah bagi jamaah terutama jamaah yang masih muda-muda yang sudah bertemu Wali yang Mursyid, karena hal itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Adakalanya sebagai generasi muda banyak hal yang ingin dilakukan, ingin dimiliki dan ingin dinikmati. Namun kita harus ingat, bahwa keinginan-keinginan untuk memiliki dan menikmati glamournya kehidupan duniawi hendaknya dibatasi.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi mu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi mu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Ketahuilah wahai para generasi muda, negara-negara Islam kini amat sinonim dengan dengan negara dunia ketiga yaitu negara dengan kategori miskin. Bangkitlah, perkuat diri dengan ilmu Allah, jauhi nafsu yang menyesatkan dan sambutlah seruan untuk mengubah masa depan yaitu menuju jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Akhirnya para para jamaah generasi muda khususnya dan jamaah umumnya, saya berpesan raihlah ilmu pengetahuan itu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya dengan bersungguh-sungguh dan sungguh-sungguh pula kamu dalam bekerja dan berniaga untuk meningkatkan karir dan rezeki. Jadilah kamu generasi muda yang berilmu dan beriman. Usaha, do’a, Al Qur’an dan Hadist adalah perkara yang jangan sesekali ditinggalkan. Letakkan masalah akhirat di depan dalam setiap perkara dan pekerjaan.

Apabila akhirat menjadi tujuan hidup maka dunia pasti akan ikut, namun apabila dunia menjadi tujuan hidup maka dapat dipastikan akhirat akan luput.

Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tanjung Morawa, 05 Desember 2010
Thariqat Naqsyabandiyah Jabal Qubis,

Syekh H. Ghazali An Naqsyabandi
Guru Mursyid.