Mursyid

Bagi seseorang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Dzat Allah SWT secara kaa-ffah, komprehensif untuk mengenal Tuhannya dengan sebenar-benarnya berdasarkan syariat dan hakikat, lahir-batin sehingga diperoleh keyakinan yang padat, mutlak perlu bimbingan dan petunjuk dari seorang Waliyyan Mursyiida yaitu seorang Guru yang Mursyid. Guru yang Mursyid ini merupakan seorang yang telah mencapai puncak pelaksanaan Islam Kaa-ffah sehingga senantiasa dapat menjadi petunjuk dari Allah SWT bagi umat sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Kahfi ayat 17 :

ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖوَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Artinya: “Itulah salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang beruntung, maka siapa yang Allah membiarkannya sesat, maka tidak seorang Waliy-yan-mursyid pun yang dapat memberikannya pertolongan”(QS: Al Kahfi : 17)

Seorang Guru Mursyid merupakan tali Allah agar manusia berpegang kepadanya terus bersama-sama demi keselamatan dunia dan akhirat sebagaimana firman-Nya dalam QS Ali Imran ayat 103 :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya : “Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali Allah dengan berjama’ah dan janganlah kamu bercerai berai.” QS Ali Imran: 103

“Guru dari sekalian Guru Mursyid” bagi umat islam adalah Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat kepada jalan yang haq. Beliau ini disebut para sahabat sebagai Al Qur’an yang berjalan dan telah meninggalkan warisan yang tiada tara untuk umat sepeninggalnya berupa Al Qur’an dan As Sunnah. Warisan ini langsung disampaikan Baginda Nabi SAW untuk menjaga para sahabatnya, dan Beliau pun telah menjaga juga umat setelahnya dengan menurunkan / mewariskan tugas penjagaan ini kepada para sahabatnya, kemudian dari sahabat kepada tabi’in dan kemudian kepada tabi’it tabi’in hingga kepada generasi setelahnya yaitu ulama waratsatul anbiya hingga sekarang ini. Telah diterangkan dalam hadits sahih Muslim berikut :

Bintang-bintang adalah penjaga langit, apabila bintang-bintang itu hilang, maka akan datang bagi penduduk langit tersebut apa yang dijanjikan. Aku adalah penjaga para Shahabatku, apabila aku meninggal maka akan datang bagi para Shahabatku apa yang dijanjikan. Dan para Shahabatku adalah para penjaga ummatku, apabila para Shahabatku meninggal, maka akan datang bagi ummatku apa yang dijanjikan.” (HR. Muslim)

Para Guru Mursyid ini di lain keterangan disebut oleh Rasulullah SAW sebagai para khalifahnya sesuai dengan do’a Rasulullah SAW sebagai berikut :

Allaahumarham khalfanilladziina ya’tuna min ba’dilladziina yarauna ahadiitsi wa
sunnati wa ya’lamuhan naasu.
Ya Allah kasihanilah para khalifahku yang akan datang sesudahku (sesudah masa hidupku), yaitu mereka yang meriwatkan hadits-haditsku dan sunahku dan mereka mengajarkannya kepada orang ramai.” ( H.R. Thabrani).

Di hadits lain disebutkan juga pewaris tugas ini sebagai khalifah Rasulullah SAW sebagai berikut :
Laa yadhulunnaara muslimun ra-aanii wal man ra-a man ra-aanii wala man ra-a man ra-aanii ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-lii fii tablighi wal irsyadi, inistaqamu ‘alaa syarii’ati.

Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku” (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).

Seorang Guru Mursyid akan membimbing muridnya untuk mengenal Allah dengan melaksanakan perintah-Nya yaitu memperbanyak ingat kepada Allah (berzikir kepada Allah dalam keadaan apapun dari pagi sampai petang sampai pagi lagi sehingga siapa pun muridnya yang dibimbingnya dapat berzikir kepada Allah SWT kapan pun sang murid meminta bimbingan Guru Mursyid .

Ada berbagai sebutan dari Allah SWT terhadap seorang Guru Mursyid dengan berbagai ciri atau karakter, di antara sebutan Allah SWT tersebut yaitu ulil albab sebagaimana firman-Nya dalam QS Ali Imran 190-191 untuk menerangkan bagaimana seorang Guru Mursyid dalam berhubungannya dengan Allah SWT dengan zikir yang terus menerus tiada putus sedetik pun sebagai berikut :

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭ
لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS : Ali Imran: 190 (dan 191))

Dari QS Ali Imran 190-191 dapatlah dipahami kenapa seorang Guru Mursyid dapat membimbing ummat secara kaa-ffah (komprehensif), lahir batin , syariat dan hakikat dan ditambah lagi dengan firman-Nya dalam QS Al Baqarah : 269 untuk menerangkan bagaimana bimbingan dan petunjuk Allah SWT kepada seorang Guru Mursyid dalam membimbing umatnya sebagai pelaksanaan tugas khalifah Rasulullah SAW menjaga umat sebagai berikut :
Al Baqarah: 269

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ

Artinya: “Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS Al Baqarah : 269)

Di ayat lain dijelaskan juga seorang Guru Mursyid dalam membimbing umat diberikan petunjuk dan pelajaran oleh Allah SWT sebagaimana diterangkan dalam QS Az Zumar : 18,
Az- Zumar: 18

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya . Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah Ulil Albab.” (QS Az Zumar : 18)
Hal yang sangat penting diketahui tentang Guru Mursyid adalah kriteria pokok sebagai pedoman agar tidak salah atau terkecoh oleh orang yang mengaku-ngaku seorang Guru Mursyid padahal bukan. Berikut adalah di antara kriteria dari seorang Guru Mursyid dalam pemahaman Thariqat Naqsyabandiyah Yayasan Jabal Qubis:

1. Merdeka dalam artian tidak tergantung kepada atau berada dalam kendali orang atau pihak lain seperti status karyawan, pekerja dari suatu instansi atau perusahaan.
2. Melaksanakan syariat Islam secara kaa-ffah termasuk di antaranya menikah (memiliki isteri)
3. Sebagaimana Nabi SAW diangkat Allah SWT menjadi nabi-Nya pada usia 40 tahun, Guru Mursyid pun mempunyai usia minimal 40 tahun.
4. Memiliki silsilah kemursyidan yang bersambung sampai kepada diri Nabi SAW
5. Memiliki Ijazah kemursyidan yang otentik dari gurunya , baik itu otentifikasinya secara lahir maupun batin .

Kriteria lain dapat ditemukan pada kitab-kitab ulama salaf seperti ada termaktub dalam kitab Khozinatul-Asror halaman 194, kitab Tanwirul Qulub karya Syeikh Muhammad Amin Kurdi , serta di kitab atau referensi lainnya.
Di dalam Thariqat Naqsyabandiyah, seorang ulama itu harus ada memegang ijazah yang di dalamnya dapat dilihat dari mana ia berguru, dari guru ke guru, hingga sampai kepada Guru dari segala Guru , yakni diri Nabi Muhammad SAW. lnilah yang disebut dalam Thariqat Islam khususnya Thariqat Naqsyabandiyah sebagai khalifah-khalifahku (kata Rasulullah SAW) yang lurus disebut tali Allah. Ijazah seorang mursyid mutlak adanya sebagaimana ijazah yang berlaku dalam periwayatan suatu hadits. Oleh sebab itu kemurnian ilmu Islam dari seorang mursyid yang bersilsilah serta mempunyai ijazah ini dapat terjaga dan terpelihara. Sudah sepantasnya seorang mursyid menjadi ikutan umat dan menjadi pembimbing umat sebagai khalifah Rasulullah SAW karena demikian ketat persyaratan dan kriterianya.

Di antara berbagai kriteria tersebut, ada dua yang sangat penting dan layak diketahui khususnya bagi siapa saja yang mau berguru thariqat dengan benar. Dua kriteria penting ini yaitu silsilah yang bersambung sampai kepada diri Nabi SAW serta ijazah kemursyidan. Dua hal ini sangat penting sebagaimana pentingnya ijazah serta sanad bagi seorang perawi hadits. Kesahihan suatu hadits ditentukan oleh sanad perawinya serta didukung oleh matan (isi) hadits, jika sanadnya otentik maka haditsnya diakui sahih. Hal yang sama berlaku dalam thariqat yang didukung dengan keotentikan ijazah dan silsilah baik secara lahir maupun batin.