Islam Kaffah

Pada era modern ini ketika manusia banyak menghabiskan waktunya di dalam menjalankan perannya dalam hal-hal yang bersifat duniawi, banyak kaum muslimin yang masih berusaha untuk menjalankan agamanya dengan menyeluruh (kaa-ffah) sehingga selain syariat yang dijalankan, mereka juga mengejar nilai hakikat dalam beragama karena keduanya saling terkait erat.

Dikutip dari Buku “Tuntunan Mencari Al Ulama Waratsatul Anbiya” karya Saidi Syekh H.A.D. Syarif Alam,“Syekh Naqsyabandi berkata : bahwa syariat itu segala apa yang diwajibkan, dan hakikat itu segala apa yang diketahui yang terselip di dalamnya. Syariat itu tidak bisa terlepas dari pada hakikat; dan hakikat itu tidak bisa terlepas dari pada Syari’at”. Inilah yang dimaksud oleh Imam Malik dalam dakwahnya : ‘’Barang siapa mempelajari Ilmu Fiqih atau Syari’at saja tanpa mempelajari ilmu Tasawwuf atau hakikat maka dia tergolong fasik, dan barang siapa mempelajari ilmu Tasawwuf saja atau Hakikat saja tanpa mempelajari Ilmu Fiqih atau Syariat, maka dia itu tergolong zindik. Dan barang siapa mempelajari dan mengamalkan kedua-duanya, maka mendapatlah ia kesempurnaan amal – ibadahnya.

Merujuk pada pernyataan di atas jelas bahwa Islam adalah agama yang sempurna karena diturunkan oleh Allah SWT yang Maha Sempurna. Untuk dapat menjalankan agama yang sempurna maka perlu kiranya sebagai umatnya agar menjadi muslim yang kaa-ffah, yaitu menjalankan syariat dengan disertai melaksanakan hakikatnya. Syariat adalah aturan-aturan yang diturunkan oleh Allah SWT melalui NabiNya untuk dijadikan pedoman dalam hidup manusia, sedangkan hakikat adalah puncak ketika individu telah dapat merasakan dan memaknai ibadah dan aturan yang diberikan oleh Allah yang kemudian berbekas pada jiwanya.

Sebagaimana diketahui bahwa pelaksanaan Islam secara utuh menyeluruh telah diperintahkan oleh Allah SWT dalam firmanNya di QS Al Baqarah : 208 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya”(QS Al-Baqarah : 208). Dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam Q.S Al Baqarah : 85 :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagian yang lain”(QS. Al-Baqarah : 85)

Kedua ayat di atas memberi perintah kepada kaum muslimin supaya masuk ke dalam Islam secara utuh dan menyeluruh. Adapun yang dimaksud kaa-ffah disini, artinya memasuki Islam secara totalitas, komprehensif, serta bersungguh-sungguh.

Sebagaimana yang diterangkan di atas mengenai Islam Kaa-ffah, bahwa Islam Kaa-ffah sudah pasti telah dicapai oleh seorang Ulama Pewaris Nabi sehingga layaklah menjadi seorang yang kamil mukammil (sempurna dan menyempurnakan) dari segi keislamannya. Keutuhan pemahaman dan pelaksanaan Islam Kaa-ffah menjadi kewajiban semua muslim meskipun yang sudah mampu mencapainya adalah baru seorang Ulama Pewaris Nabi (Guru yang Mursyid). Bagi seorang Guru yang Mursyid memang mutlak untuk mengetahui ilmu agama Allah secara keseluruhan yaitu Fiqih, tauhid dan tasawwuf sebagai ahli sunnah wal jama’ah. Fiqih adalah pergaulannya, tauhid adalah tujuannya dan tasawwuf adalah akhlaknya.

Dari Umar bin Khattab r.a. beliau berkata, Pada suatu hari ketika kami (para sahabat Nabi SAW) sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan sidang seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, rambutnya hitam, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenal tamu itu, terus duduk di muka Nabi SAW. Kedua tangannya diletakkan di atas paha Nabi SAW dan selanjutnya tamu itu berbincang-bincang dengan Nabi SAW, seraya bertanya : Ya Muhammad, coba jelaskan kepada saya :

  1. Tentang Islam: Nabi SAW pun menjelaskan tentang Islam ialah bahwa engkau naik saksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu pesuruh Allah, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan , dan Naik haji ke Baitullah bila ada kemampuan berjalan kesana.

Tamu itu mengatakan benar sekali. Dan selanjutnya tamu itu bertanya lagi, coba jelaskan kepada saya

  1. Tentang Iman : Nabi SAW pun menjelaskan tentang iman ialah bahwa engkau percaya adanya Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Kemudian (Kiamat), dan ketentuan yang baik dan buruk semuanya datangnya dari Allah. Selanjutnya tamu itu bertanya kembali
  2. Tentang Ihsan : Nabi SAW pun menjawabnya bahwa ihsan ialah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, maka apabila engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya (yakinlah) Allah melihat engkau.

Setelah tamu itu pergi maka para sahabat masih tinggal menantikan hasil diskusi atau perbincangan itu, lalu Nabi SAW bersabda : Ya Umar apakah kalian tahu siapakah tamu yang bertanya itu? Para sahabat Nabi SAW menjawab : Allah dan Rasulnya lebih mengetahui. Maka Nabi SAW bersabda “itulah tadi Malaikat Jibril ‘alaihissalam, sengaja datang untuk mengajarkan kesimpulan dari pokok-pokok Agama-mu’’

Penjelasan

  1. Tentang Islam

Islam tersusun dalam fiqih, yaitu merupakan satu bagian dari Ilmu Agama Islam, untuk memahami bagaimana menjalankan atau melaksanakan aturan-aturan Allah SWT. Fiqih itu dalam bahasa arab disebut : Al ‘Ilmu fahmu lahu, artinya : mengetahui sesuatu dan memahaminya. Maka dalam pengertian yang umum disebut mengetahui dan memahami hukum-hukum/peraturan Agama tentang perbuatan seseorang yang dibebani hukum (mukallaf) seperti Hukum yang wajib, haram, syah, batal, rukun dan syarat. Maka kandungan hukum-hukum syari’at itu ialah :

  1. Ibadah : yaitu peraturan – peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan cara-cara bersuci atau berthaharah
  2. Muamalah : yaitu undang-undang yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, seperti jual beli, perkawinan dan sebagainya
  3. Ukubah : yaitu undang-undang yang mengatur pelanggaran hukum dalam tiap-tiap bidang hukum Agama seperti jinayat (pembunuhan) dan sebagainya. Yang kesemuanya itu adalah peraturan Allah SWT yang termaktub dalam ilmu fiqih ini, yang dinamakan syariat.
  1. Tentang Iman

Iman artinya kepercayaan. Segala yang berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan disebut dengan iman. Ilmu untuk menyempurnakan pengenalan iman disebut dengan ilmu tauhid, ilmu kalam, atau ilmu Ushuluddin.

Ilmu tauhid adalah satu ilmu untuk membahas (memperbincangkan) dengan akal pikiran sesuatu yang bertalian dengan ketetapan dalam itikad agama dengan keterangan (dalil) dan bukti yang yakin. Tujuan yang diimankan kepada umat Islam yang menyebabkan masuknya kelak ke dalam syurga dan terlepas dari neraka, yaitu membenarkan Allah SWT dan membenarkan Nabi Muhammad SAW yang berarti membenarkan yang diberitakannya, bukanlah terbit dari dirinya sendiri dan bukan diada-adakannya sendiri, tetapi semuanya pemberian Allah SWT.

Sebagian yang diterimanya itu ialah kepercayaan kepada Allah SWT, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Akhirat, Qadha dan Qadar (ketentuan yang baik dan buruk datangnya dari Allah SWT)

Ilmu Tauhid mengandung pengertian untuk meng-Esakan Allah dalam arti luas, dan membicarakan soal yang bertalian denga Ke-Esaan Tuhan itu, seperti mempercayai kebenaran yang difirmankanNya dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Dinamakan juga ilmu kalam karena ilmu ini biasanya selalu diperkatakan (kalam), karena soal hukum ketuhanan ini mendasarkan kepada hukum akal, maka selalu juga diperbincangkan atau dikatakan orang termasuk ilmu 20 sifat Allah. Juga dinamakan ilmu Ushuluddin karena ilmu ini memperkatakan juga pokok-pokok (dasar) Agama Islam ini.

Sebenarnya bukanlah hanya persolan pokok ‘itikad ini saja, tetapi termasuk juga di dalamnya pokok dari hukum Syara’ Islam, seperti kewajiban shalat dan lain-lain

  1. Tentang Ihsan

Ihsan dalah praktek atau (usaha) tentang pencucian hati melalui jalan dzikir latifatul-qalbi, maupun dzikir khafi yang bertitik tolak dari hadist Nabi SAW yaitu menyembah Allah SWT seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Allah melihat engkau karena itu supaya benar-benar hati itu jangan beralih kepada yang lain selain yang dituju, yaitu Allah.

Dalam hadis Qudsy, difirmankan lagi : yang artinya “Bahwasanya Allah tidak memandang kepada badan kamu dan tidak pula memandang rupa kamu, tetapi Allah memandang hati kamu (H.R. Muslim) . Seiring dengan itu, Allah menegaskan dalam Qur’an dengan firman-Nya : (Q.S. Al-A’raf: 205) :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah nama Tuhanmu (dan berdzikirlah mengingat Allah) dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (khusyuk dan tawadhu’) dan dengan suara yang tidak kedengaran, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai’’ (QS Al-A’raf : 205)

Untuk dapat merasakan dan memaknai ibadah yang telah kita jalankan dan mengenal rahasia-rahasia Allah, setiap muslim dapat mempelajarinya dari ilmu Tasawwuf yaitu suatu ilmu untuk mencapai kemurnian ibadah, yang memperhatikan kesucian hati dengan segala masalah yang timbul seperti ujub, riya, takabbur, dengki, khianat dan segala gerak-gerik hati yang jahat yang merusak shalat atau hubungan seseorang kepada Tuhannya yaitu Allah, yang di dalam ilmu tasawwuf disebut pendinding atau penghijab. Oleh karena itu, bersabda Nabi SAW : “Tiap-tiap sesuatu ada alat yang mensucikannya dan pencuci hati yang bernajis ialah berdzikir kepada Allah. Maka dengan dzikir hati setiap umat muslim akan kembali suci dan pada tahap tertentu akan kembali sempurna.”

Metode pelaksanaan tasawwuf ini disebut juga thariqat yang merupakan suatu metoda untuk beragama Islam secara utuh menyeluruh, komprehensif, lahir dan bathin, syari’at dan hakikat sesuai Quran dan Sunnah Nabi SAW dengan didasari memperbanyak dzikir kepada Allah SWT atas bimbingan seorang Guru Mursyid yang bersilsilah sampai kepada diri Nabi SAW.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Al islaamu ya‘luun wa laa yu‘laa ‘alay hi”

Yang artinya: “Islam adalah sangat tinggi, tiada yang dapat melebihinya“ (H.R.Bukhari). Tetapi kata beliau selanjutnya:

“Al islaamu ‘ilmiyyun wa ‘amaliyyun”

Yang artinya: “Islam adalah ilmiyah dan amaliyah“ (HR. Bukhari).

Oleh karena itu Islam sangatlah lengkap sehingga dalam mengenal Islam bukan hanya secara ilmu Fiqih, karena Islam bukan fiqih saja dan bukan Tasawwuf dan sufi saja tetapi islam meliputi keduanya. Oleh karena itu amalan dzikirullah yang tertuang dalam Qur’an dan Sunnah Nabi SAW merupakan ilmu yang dapat dialami dan dirasakan keutamaannya, hanya dapat digali dengan metode atau tata cara yang terletak dalam ilmu sufi Tasawwuf yang cara peramalannya dinamakan Thariqat, tata cara yang tidak dapat dijumpai pada Ilmu Fiqih. Namun pengamalannya harus rutin atau terus menerus (istiqomah), sebab tidak ada hukumnya segala sesuatu itu akan berhasil kalau dikerjakan sambil lalu saja.

Untuk membiasakan pengamalan yang terus-menerus inilah sebabnya Thariqat Islam Thariqat Naqsyabandiyah *Yayasan Jabal Qubis* memasyarakatkan suluk atau penataran Ruhani secara terus menerus, supaya segala pengamalan-pengamalan semakin dalam yang pada gilirannya akan mengalami dan melihat hasilnya.Sehingga Thariqat Islam itu dengan segala Ilmunya dapat dirasakan memberikan wawasan yang luas dan berkembang sebagai sepih-belahan dari ajaran Islam itu sendiri dan tidak lagi menjadi tanda tanya yang bersimpang siur.